Beberapa minggu yang lalu, seorang teman meminta saya membantunya
mereview sebuah jurnal tentang culture shock. Saya sendiri tidak
familiar dengan istilah ini. Walau demikian, saya anggap ini adalah
suatu tantangan baru buat saya. Belajar sekaligus membantu teman.
Berikut ini adalah hasil pembelajaran saya dari beberapa literatur.
Pertama-tama, kita mulai dari definisi dulu. Apa sih yang dimaksud dengan culture shock?
Ketika kita mengatakan bahwa kita 'shock' akan suatu hal, maksudnya kita
tidak menyangka bahwa hal tersebut akan datang dan kita tidak siap
dengan sesuatu yang baru itu. Begitu pula dengan 'shock' budaya.
Bayangkan kita datang di suatu tempat yang sama sekali belum pernah kita
kunjungi di benua lain. Mereka punya jenis makanan, cara
bersosialisasi, dan cara berpakaian yang berbeda dengan kita. Lalu Anda
harus tinggal di tempat itu selama beberapa waktu. Beberapa orang
tentunya akan mengalami shock pada awalnya. Inilah yang dimaksud dengan
culture shock.
Istilah Culture Shock pertama kali diperkenalkan oleh seorang Antropolog
(Ahli Antropologi) bernama Kalervo Oberg pada akhir tahun 1950-an.
Oberg sendiri mendefinisikannya sebagai "penyakit" yang diderita oleh
individu yang tinggal di sebuah lingkungan budaya baru. menurut Oberg,
culture Shock merupakan akibat dari hilangnya tanda dan simbol budaya
yang dikenal, membuat individu mengalami kecemasan, frustrasi, dan
perasaaan tidak berdaya (Chapdelaine & Alexitch, 2004). Searle &
Ward (Chapdelaine & Alexitch, 2004) menyebutkan bahwa Culture shock
merujuk pada banyaknya tuntutan penyesuaian yang dialami individu pada
level kognitif, perilaku, emosional, sosial, dan fisiologis ketika
mereka ditempatkan di budaya yang berbeda.
Hubungan lintas budaya tersebut terbagi atas dua kategori besar, yaitu
yang terjadi di antara penduduk negara atau masyarakat dengan beragam
budaya, dan yang terjadi ketika seseorang dari suatu masyarakat pergi ke
negara lain dengan tujuan tertentu, contohnya untuk bekerja, bermain,
belajar, mengeksploitasi, atau memberikan bantuan (Bochner dalam
Chapdelaine & Alexitch, 2004).
Siapa saja yang mengalami culture shock?
Ward, Bochner, dan Furnham (2005) mengemukakan kelompok-kelompok yang terlibat dalam hubungan lintas budaya, di antaranya:
1. Wisatawan. World Tourism Organization (WTO) mendefinisikan turis
sebagai pengunjung yang lama tinggalnya lebih dari 24 jam di sebuah
lokasi yang jauh dari rumah dan yang tujuan utamanya untuk bepergian
bukanlah tujuan finansial.Turis internasional bersifat jangka pendek,
datang untuk berlibur, dan merupakan kelompok pendatang lintas budaya
terbesar.Motif para turis untuk datang mencakup pemandangan, alam,
olahraga dan seks. Meskipun demikian hanya sedikit dari mereka yang
ingin mempelajari budaya. Karena interaksi antar budaya dalam budaya
yang berbeda seringkali sulit dilakukan dan karena pembelajaran budaya
bukanlah selalu merupakan minat utama, banyak turis memilih bepergian ke
tempat di mana jumlah kontak dengan penduduk setempat terbatas. Mereka
memilih untuk tinggal dengan rekan sebangsa di hotel-hotel dan tempat
pesiar dengan staf yang bisa berbicara dalam bahasa mereka dan
mengantisipasi kebutuhan mereka dengan akurat. Penelitian menunjukkan
bahwa turis eringkali memiliki harapan yang tidak realistis dan banyak
yang bereaksi buruk ketika dihadapkan dengan pengalaman 'culture shock'
pada masa-masa awal liburan.
2. Sojourner atau pendatang sementara. Sojourner tinggal sementara dan
oleh karena itu merupakan penduduk sementara. Seorang sojourner pergi ke
luar negeri secara sukarela selama periode waktu tertentu yang biasanya
berkaitang perjanjian atau kontrak tertentu. Dengan demikian seorang
sukarelawan munkgin melakukan tugas ke luar negeri selama satu atau dua
tahun, seorang pebisnis mungkin menerima untuk ditempatkan selama 3 atau
4 tahun, seorang misioner mungkin lebih lama, sementara anggota militer
seringkali ditempatkan lebih singkat. Seorang mahasiswa internasional
biasanya tetap tinggal selama durasi kesarjanaan mereka.
3. Imigran. Migran mencakup mereka yang secara sukarela berpindah tempat
untuk waktu yang lama. Mereka umumnya 'ditarik' ke sebuah negara baru
oleh kekuatan sosial, ekonomi, dan politik. Mayoritas imigran sangat
termotivasi oleh faktor ekonomi dan biasanya berpindah dari negara yang
lebih miskin ke negara yang lebih kaya. Meskipun demikian, sebagian
kecil imigran memilih pindah karena alasan politis, religius, atau
budaya. Para imigran seperti halnya sojourn merupakan kelompok yang
sangat beragam. Terdapat variasi yang luas dalam hal jarak budaya antara
masyarakat asal dan masyarakat tempat tinggal imigran.
4. Pengungsi. Pengungsi sebagai sebuah kelompok juga memainkan peranan
penting dalam pertumbuhan migrasi internasional secara global. Berbeda
dengan pendatang lintas budaya yang lain, pengungsi umumnya telah
mengalami trauma sebelum migrasi, seperti perang sipil, genosida*,
kelaparan, pemenjaraan, dan penyiksaan. Pemindahan mereka tidak secara
sukarela dan mereka tidak rela dipindahkan dari negara asal mereka dan
'didorong' ke lingkungan yang asing. Mereka umumnya kurang memiliki aset
finansal, juga memiliki sumber daya pendidikan dan bahasa yang terbatas
dalam membantu mereka beradaptasi terhadap lingkungan baru dan berbeda
budaya. Hal ini khususnya tampak pada kasus-kasus di mana pengungsi
berasal dari daerah pedesaan Asia dan Afrika yang direlokasi ke
pusat-pusat kota di negara-negara industri barat.
Lalu, apa yang kemudian terjadi setelah culture shock?
Ward, Bochner, dan Furnham (2005) memaparkan bahwa ketika
kelompok-kelompok yang berbeda budaya saling berhubungan, maka akan ada
pengaruhnya terhadap struktur sosial, perjanjian institusional, proses
politik, dan sistem nilai. Individu-individu yang terlibat dalam
pertemuan budaya tersebut juga terpengaruh. Pada level kelompok,
terdapat empat hasil pertemuan antar budaya, yaitu genosida, asimilasi,
segregasi, dan integrasi.
Genosida
Terdapat banyak contoh di masa kuno maupun dalam sejarah ketika suatu
kelompok biasanya mayoritas atau yang memiliki sumber daya teknologi
superior, telah membunuh atau berusaha membunuh semua anggota kelompok
lain yang melakukan kontak dengan mereka. Contoh genosida bisa kita
lihat pada gerakan Nazi. Pergerakan pengungsi juga seringkali merupakan
hasil dari usaha genosida, dan efek dari trauma sebelum migrasi bersifat
kuat dan berlangsung lama.
Asimilasi
Asimilasi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses
'menelan' sebuah budaya oleh budaya lain. Hal tersebut seringkali adalah
pendekatan yang digunakan oleh kekuatan kolonial di mana mereka memaksa
nilai budaya dan etika mereka pada negara-negara yang telah mereka
taklukkan. Secara teknis, asimilasi merujuk pada proses di mana sebuah
kelompok atau sebuah masyarakat secara bertahap mengadopsi, atau dipaksa
mengadopsi kebiasaan-kebiasaan, nilai, gaya hidup, dan bahasa dari
budaya yang lebih dominan.
Segregasi
Segregasi merujuk pada kebijakan perkembangan terpisah. Dorongan untuk
melakukan segregasi dapat datang entah dari mayoritas dominan yang ingin
mengeluarkan kelompok minoritas tertentu dari posisi-posisi, institusi,
dan daerah kekuasaan penting, atau dari kelompok minoritas sendiri yang
secara aktif menuntut negara bagian terpisah, daerah budaya, sekolah
khusus, kepemilikan tanah berdasarkan latar belakang etnis, sanksi
terhadap pernikahan antar budaya, dan lain-lain.
Integrasi
Hubungan lintas budaya hanya dapat diatasi ketika kita secara tegas
mengakui bahwa kelompok-kelompok manusia berbeda dalam identitas budaya
masing-masing, bahwa mereka memiliki hak untuk mempertahankan hal-hal
istimewa jika mereka menginginkannya, dan bahwa prinsip ini berlaku
untuk perbedaan baik dalam maupun antar masyarakat. Integrasi merujuk
pada akomodasi yang terjadi ketika kelompok yang berbeda mempertahankan
identitas budaya inti sementara pada waktu bersamaan juga menyatu dengan
kelompok yang dominan, sama-sama saling menghormati.
Pada level individu, terdapat empat gaya respon terhadap hubungan antar
budaya. (1) Seringkali individu menolak budaya asal dan mengadopsi
budaya baru, khususnya di mana budaya kedua memiliki status lebih
tinggi. Sebuah efek yang kadang-kadang dirujuk sebagai gaya 'mengoper'.
(2) Walaupun jarang terjadi, individu akan menolak pengaruh budaya lain
seperti alien, mundur kembali ke budaya asal dan menjadi nasionalis
militan dan memiliki patriotisme berlebihan. (3) Respon ketiga terjadi
cukup umum, yaitu individu terombang-ambing antara dua budaya, tidak
merasa akrab dengan kedua budaya. sebuah efek yang kita sebut 'sindrom
marginal'. (4) Beberapa orang tampaknya mampu menggabungkan identitas
budaya mereka yang beragam, setara dengan integrasi pada tingkatan
individu, dan memperoleh kepribadian bikultural atau multikultural yang
sejati. Individu seperti itu relatif jarang, dan dirujuk oleh Bochner
sebagai 'orang yang memediasi'.
*) Catatan: Genosida merupakan pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan bangsa.
Referensi:
Chapdelaine, R.F., & Alexitch, L.R. (2004). Social skills
difficulty: model of culture shock for international graduate students. Journal of College Student Development, 45(2), 167-184. Melalui Proquest Education Journals database.
Ward, C., Bochner, S., & Furnham, A. (2005). The psychology of culture shock. Melalui Taylor & Francis e-Library.
Sumber : http://jurnaljane.blogspot.com/2011/12/culture-shock-shock-karena-bertemu.html
Jumat, 08 Juni 2018
Sabtu, 28 April 2018
Nilai Nilai Budaya Pada Bank DKI Syariah
Budaya perusahaan merupakan nilai dan falsafah yang telah disepakati dan diyakini oleh seluruh insan Bank DKI sebagai landasan dan acuan bagi Bank DKI untuk mencapai tujuan. Bank DKI mendefinisikan budaya perusahaan dalam tujuh nilai yang meresap ke dalam segenap karyawan Bank DKI.
1. Komitmen
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang disepakati dan bertanggung jawab dengan sepenuh hati.
1. Komitmen
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang disepakati dan bertanggung jawab dengan sepenuh hati.
Panduan Perilaku:
- Memegang teguh dan berupaya keras untuk mencapai target
- Melaksanakan pekerjaan dengan penuh tanggung-jawab
- Dapat dipercaya dalam mengemban setiap pekerjaan dengan benar
- Menjalankan tugas mengikuti aturan yang berlaku
2. Teamwork
Kerjasama yang dilandasi semangat saling menghargai dan menghormati untuk mencapai hasil yang terbaik
Panduan Perilaku:
- Bersedia mendengar dan menghargai pendapat orang lain
- Tidak memaksakan kehendak atau pendapat pribadi
- Aktif memberi saran, pendapat untuk keberhasilan tim
- Berpikir positif
- Bersedia bekerja dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab dan dedikasi
3. Profesional
Menjalankan tugas sesuai dengan keahlian, keterampilan dan pengetahuan di bidangnya untuk mencapai kinerja terbaik dengan tetap menjunjung tinggi kode etik bankir.
Panduan Perilaku :
- Bekerja efektif dan efisien
- Inovatif dan kreatif
- Selalu belajar untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan dan keahliannya
- Positif thinking
- Berwawasan luas dan pandangan jauh ke depan
- Bekerja berdasarkan prinsip kehati-hatian (prudent)
4. Pelayanan
Memberikan layanan terbaik kepada seluruh nasabah dengan sikap ramah, sopan, tulus dan rendah hati sehingga dapat memberikan kepuasan.
Panduan Perilaku :
- Senyum Salam Sapa
- Mendengarkan dengan sepenuh hati untuk memahami kebutuhan nasabah
- Memberikan layanan dengan sigap, cepat dan akurat
5. Disiplin
Melaksanakan tugas secara tepat waktu, tepat guna, dan tepat manfaat.
Panduan Perilaku :
- Tepat waktu
- Bertindak sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku dengan penuh tanggung jawab
- Melaksanakan rencana yang telah ditetapkan
- Menggunakan sarana dan prasarana kantor sebagaimana mestinya
Melaksanakan tugas dengan segala upaya untuk mencapai hasil yang terbaik.
Panduan Perilaku :
- Pantang menyerah untuk mencari solusi yang lebih baik
- Menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang terbaik
- Selalu bersemangat untuk memberikan hasil yang lebih baik
- Tidak cepat puas atas hasil yang dicapai
7. Intergritas
Membangun kepercayaan dengan kejujuran, tanggung jawab, moral, serta satu kata dengan perbuatan
Panduan Perilaku :
- Berani menyatakan fakta apa adanya secara transparan dan jujur dengan tetap menjaga rahasia bank dan perusahaan
- Menjunjung tinggi kebenaran sesuai dengan kode etik bankir
- Melaksanakan tugas dengan ikhlas
- Bersikap terbuka dalam mengungkap gagasan dan pendapat Mencintai pekerjaan dan menjaga citra bank
By:
Unknown
On 07.04
Minggu, 22 April 2018
ISTEM MANAJEMEN INSIDEN PADA PROGRAM MANAJEMEN HELPDESK DAN DUKUNGAN TI BERDASARKAN FRAMEWORK ITIL V3 (STUDI KASUS PADA BIRO TEKNOLOGI INFORMASI BPK-RI)
Nama Kelompok :
1. Mohd. Ilham Anugrah
2. Qirana Rizka Ramadhanty
SISTEM MANAJEMEN INSIDEN PADA
PROGRAM MANAJEMEN HELPDESK DAN DUKUNGAN TI BERDASARKAN FRAMEWORK ITIL V3 (STUDI
KASUS PADA BIRO TEKNOLOGI INFORMASI BPK-RI)
Pada
saat ini banyak badan pemerintah, organisasi, dan perusahaan di dunia
menjadikan teknologi informasi (TI) sebagai backbone atau tulang punggung
pendukung bagi setiap proses bisnis utama guna mencapai tujuan bisnisnya.
Proses bisnis yang berjalan 24/7 membutuhkan TI harus setiap saat siap sedia
dan dapat memberikan layanan yang dibutuhkan. TI digunakan untuk meningkatkan
produktifitas dan membuat proses bisnis menjadi lebih efektif dan efisien.
Terkait
dengan hal tersebut, BPK-RI dalam Rencana Strategis 2006-2010 menyebutkan
sasaran strategisnya pada bidang Pengukuran, Analisis, dan Pengelolaan
Pengetahuan, yaitu membangun infrastruktur teknologi informasi yang handal dan
aman yang diselaraskan dengan kebutuhan dan arah organisasi [BPK06]. Untuk
melaksanakan hal ini, biro Teknologi Informasi dibawah Sekretaris Jenderal
BPK-RI diberi tanggungjawab dalam mengembangkan layanan TI di lingkungan
BPK-RI. Dalam kegiatannya, biro TI melakukan tugas utama mendukung layanan TI
BPK-RI baik di kantor pusat maupun di perwakilan seluruh Indonesia [BPK07].
Salah
satu layanan TI yang diberikan oleh biro TI tertuang dalam Rencana Strategis
Teknologi Informasi BPK-RI yaitu program manajemen helpdesk dan dukungan TI.
Dalam pelaksanaannya layanan dukungan TI disini terkait erat sekali dengan
proses manajemen insiden. Program manajemen helpdesk dan dukungan TI merupakan
salah satu program kerja utama Rencana Strategis Teknologi Informasi BPK-RI.
Akan tetapi dalam pelaksanaannya, program ini belum memiliki sebuah dokumen
tata laksana sebagai panduan pelaksanaan bagi para penggunanya.
Proses penanganan insiden atau
manajemen insiden semakin besar porsi pengerjaannya dalam lingkungan biro TI
dari hari ke hari. Hal ini dikarenakan pada saat ini sumber daya TI yang
dikelola dalam organisasi BPK-RI semakin banyak, dan saat ini hampir semua proses
bisnis di BPK-RI memerlukan TI sebagai pendukung. Pada saat ini hampir seluruh
proses bisnis BPK-RI terkait erat dengan TI sebagai pendukungnya, baik itu
aplikasi sistem informasi maupun perangkat keras komputer dan sumber daya
network. Sehingga jika terjadi suatu insiden maka proses bisnis dapat menjadi
terganggu.
Agar penanganan insiden dapat
semakin baik dan mengurangi ketergantungan terhadap staf tertentu, diperlukan
sebuah dokumen tata laksana mengenai manajemen insiden yang berdasarkan
framework tata kelola TI. Dengan adanya dokumen tata laksana manajemen insiden,
semua pegawai dalam biro TI dapat mengetahui fungsi dan tanggungjawabnya serta
juga langkah-langkah yang harus diambilnya dalam penanganan suatu insiden.
Dalam penelitian ini framework
tata kelola TI yang dipilih adalah ITIL v3. Framework ITIL memiliki fokus
pengembangan tata kelola TI khususnya dalam hal layanan (IT service). Selain
itu framework ITIL sangat tepat digunakan sebagai panduan dalam mengembangkan
sebuah tata laksana karena sifatnya best practice dan memiliki library yang
terinci untuk mengembangkan langkah-langkah dalam prosedur.
2. TINJAUAN PUSTAKA
Framework ITIL (Information Technology Infrastructure
Library) adalah sebuah framework tata kelola TI yang berisi best practice
secara khusus dalam manajemen service TI [ITL07]. Pada saat ini framework ITIL
sudah dikembangkan hingga versi 3. Pada versi ini, seperti yang tertuang dalam
gambar 1., framework ITIL dijelaskan tahapan-tahapan pengelolaan manajemen
layanan TI yaitu sebagai service lifecycle.
Ada 5 proses service lifecycle dalam ITIL [ITL07], yaitu:
1. Service
Strategy: Pada tahap ini dilakukan pengembangan strategi untuk mengubah
manajemen service TI menjadi sebuah aset strategis dari organisasi.
2. Service
Design: Pada tahap ini dilakukan pembangunan panduan manajemen layanan TI berdasarkan
strategi yang sudah dikembangkan sebelumnya pada tahap Service Strategy. Selain
itu panduan dibangun berdasarkan policy yang berlaku dalam organisasi dan untuk
pemenuhan kepuasan pelanggan.
3. Service
Transition: Pada tahap ini dilakukan proses transisi dari tata kelola yang lama
kepada tata kelola yang baru yang sudah dikembangkan dalam tahap Service
Design.
4. Service
Operation: Pada bagian ini berisi langkah-langkah best practice untuk melakukan
manajemen service TI.
5. Continual
Service Improvement: Pada bagian ini dilakukan pengelolaan masukan dari
pelanggan yang kemudian dikolaborasikan kedalam empat tahap diatas. Hal ini
bertujuan untuk meningkatkan hasil keluaran dari kegiatan Service Strategy,
Service Design, Service Transition, dan Service Operation.
Menurut framework ITIL, pengertian insiden adalah sebuah
interupsi atau pengurangan kualitas dari layanan TI. Selain itu sebuah
kesalahan konfigurasi pada sistem dapat dikatakan sebagai insiden walaupun
belum menimbulkan masalah yang berarti pada sistem tersebut. Manajemen insiden
(incident management) adalah proses yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu
insiden. Proses manajemen insiden (incident management) dilakukan berdasarkan
input dari user melalui service desk, laporan teknisi, dan juga deteksi
otomatis dari sebuah tool event management. Manajemen insiden (incident
management) pada frmework ITIL v3 berada pada cycle Service Operation.
Tujuan utama dari manajemen insiden (incident management)
adalah untuk mengembalikan kondisi layanan TI ke keadaan normal secepat
mungkin, dan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan terhadap kegiatan
bisnis utama organisasi. Keadaan normal layanan TI adalah keadaan yang telah
didefenisikan sebelumnya dalam sebuah SLA (Service Level Agreement).
Berikut adalah aktifitas-aktifitas dalam manajemen insiden
(incident management) menurut framework ITIL v3 seperti yang juga ditampilkan
pada gambar 2.:
1.Identifikasi insiden (incident identification)
Proses manajemen insiden (incident management) dimulai
dengan identifikasi. Identifikasi yang paling umum dilakukan adalah melalui
layanan service desk dan laporan dari staf teknisi. Selain itu identifikasi
insiden dapat dilakukan secara otomatis oleh tool event management yang
dipasang pada perangkat-perangkat utama. Kondisi ideal dari langkah
identifikasi adalah insiden dapat teridentifikasi sebelum terjadi implikasi
terhadap user.
2.Pencatatan insiden (incident logging)
Langkah ini wajib dilakukan untuk setiap jenis insiden baik
yang berskala besar maupun kecil. Beberapa informasi yang harus dicatat terkait
suatu insiden adalah ID, kategori insiden, waktu terjadi, deskripsi insiden,
nama orang/grup yang bertanggungjawab atas penanganan, implikasi insiden, dan
waktu penutupan kasus.
3.Pengkategorisasian insiden (incident categorization)
Dalam membuat kategori insiden dibutuhkan sebuah proses
khusus antara pengelola TI dan pihak manajemen organisasi. Hal ini bertujuan
untuk menghasilkan kategori insiden dan prioritas penanganannya sejalan dengan
proses bisnis organisasi. Kategori insiden dapat dibuat berdasarkan perkiraan
lamanya penanganan, implikasi terhadap proses bisnis organisasi, dan jumlah
staf teknis terkait.
4.Prioritas insiden (incident priorization)
Langkah prioritas insiden dilakukan berdasarkan kategorisasi
yang telah dibuat sebelumnya. Prioritas penanganan insiden dapat dilakukan
berdasarkan besarnya implikasi insiden terhadap kegiatan bisnis utama organisasi,
ataupun berdasarkan lamanya penanganan insiden.
5.Diagnosa awal (initial diagnosis)
Diagnosa awal terhadap insiden wajib dilakukan oleh setiap
pihak yang pertama kali berhubungan dengan insiden baik itu service desk, staf
teknis, maupun perangkat otomatis seperti event management. Jika insiden
ditemukan oleh service desk melalui telepon dari user, maka diusahakan service
desk tersebut yang menyelesaikan insiden selama user masih berhubungan telepon.
6.Eskalasi insiden (incident escalation)
Eskalasi insiden adalah tindakan menaikkan level penanganan
insiden. Hal ini berkaitan erat dengan hasil diagnosa awal terhadap insiden.
Jika dari diagnosa ditemukan insiden yang tidak dapat ditangani, maka wajib
dilakukan eskalasi insiden. Eskalasi insiden ada 2 macam, yaitu eskalasi fungsi
dan eskalasi hierarki. Eskalasi fungsi adalah tindakan menaikkan level
penanganan kepada satu level diatasnya. Sedangkan eskalasi hierarki adalah
tindakan menaikkan level penanganan melintasi hirarki organisasi misalnya kepada
manajer IT atau manajer bisnis yang terkait.
7.Investigasi (investigation and diagnosis)
Tindakan investigasi dilakukan untuk menemukan sumber
masalah dari insiden. Dalam melakukan investigasi, setiap tindakan wajib
dilaporkan juga ke dalam formulir insiden. Hal ini berguna sebagai data
historis tindakan penanganan suatu insiden.
8.Resolusi (resolution and recovery)
Langkah ini merupakan tindakan yang diambil untuk
menyelesaikan suatu insiden. Langkah resolusi dapat dilakukan oleh service desk
sebagai pihak yang pertama menemukan insiden dari user, staf teknisi yang
sedang mengerjakan kegiatan konfigurasi, maupun oleh supplier terhadap
perangkat yang masih dalam garansi.
9.Penutupan (incident closure)
Langkah penutupan adalah langkah yang dilakukan oleh service
desk maupun staf teknisi terkait untuk memastikan apakah insiden telah benar
selesai ditangani. Yang harus diperhatikan dalam langkah penutupan ini adalah
dokumentasi proses penanganan insiden, perkiraan terhadap perulangan insiden,
dan survei kepuasan user atas penanganan insiden.
3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan
meliputi langkah berikut:
1.Pendahuluan; Dalam tahap ini
dilakukan pendefenisian mengenai latar belakang, perumusan masalah, batasan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta metodologi yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan, yaitu pembuatan dokumen tata laksana proses manajemen
insiden.
2.Pengumpulan Informasi dan
Analisa; Dalam tahap ini dilakukan aktifitas penelaahan dokumen tata kelola
Teknologi Informasi BPK-RI. Selin itu juga dilakukan studi literatur framework
ITIL.
3.Pembuatan Dokumen Tata Laksana;
Dalam tahap ini dilakukan pembuatan dokumen tata laksana berdasarkan hasil
analisa di langkah sebelumnya. Dokumen prosedur yang dibuat akan terdiri dari
rincian aktifitas manajemen insiden, dan lampiran-lampiran kategori insiden,
prioritas insiden, metrik dan CSF (Critical Success Factor), SLA (Service Level
Agreement) serta diagram RACI. Selain lampiran-lampiran diatas, akan dibuat
juga diagram flow chart yang menggambarkan tiap aktifitas yang dilakukan.
4.Verifikasi Dokumen Tata
Laksana; Dalam tahap ini akan dilakukan verifikasi masing-masing bagian dari
dokumen tata laksana untuk mengetahui apakah masing-masing aktifitas dalam
dokumen sudah sesuai dengan tujuannya dan dapat dilaksanakan.
5.Validasi Dokumen Tata Laksana;
Dalam tahap ini akan dilakukan validasi terhadap dokumen tata laksana untuk
mengetahui apakah tujuan utama dari proses manajemen insiden sudah terpenuhi
dengan dokumen ini.
6.Kesimpulan; Dalam tahap ini
akan dilakukan perumusan kesimpulan dari keseluruhan langkah yang dilakukan dan
hasil yang didapat.
4. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dibuat berdasarkan penelitian yang
telah dikerjakan adalah sebagai berikut:
1.
Dokumen
tata laksana dikembangkan untuk sebagian tujuan program manajemen helpdesk dan
dukungan TI, yaitu proses manajemen insiden. Dokumen tata laksana ini berisi 11
(sebelas) aktifitas yang terdiri dari 9 (sembilan) aktifitas berdasarkan framework
ITIL dan 2 (dua) aktifitas tambahan sebagai kebutuhan dari organisasi yaitu
pelaporan dan evaluasi.
2.
Pelaksana
program dibagi menjadi 7 (tujuh) pihak yaitu Pelapor Insiden (U), Helpdesk
Operator (HO), Helpdesk Spesialist (HS), Incident Manager (IM), Software
Manager (SM), Network Manager (NM), dan Maintenance Manager (MM)
3.
Diagram
RACI menunjukkan tugas dan tanggungjawab masing-masing pihak tersebut diatas
dalam tiap langkah aktifitas.
4.
Aktifitas-aktifitas
yang dikembangkan dari framework ITIL, pelaksanaannya dilakukan secara kontinu
dan terus menerus. Sementara aktifitas pelaporan dan evaluasi dilaksanakan pada
awal dan akhir bulan saja.
5.
Matriks
tata laksana dibangun untuk menjadi kesimpulan keseluruhan proses program.
Matriks berisikan masing-masing aktifitas dalam program berikut dengan tujuan,
indikator kinerja, formulir dan dokumen yang diperlukan untuk pelaksanaan
aktifitas, dan diagram RACI.
Sumber : http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/semnasif/article/view/1218
By:
Unknown
On 20.51
Langganan:
Postingan (Atom)
