Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juni 2018

Kasus Pada Culture Shock

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman meminta saya membantunya mereview sebuah jurnal tentang culture shock. Saya sendiri tidak familiar dengan istilah ini. Walau demikian, saya anggap ini adalah suatu tantangan baru buat saya. Belajar sekaligus membantu teman. Berikut ini adalah hasil pembelajaran saya dari beberapa literatur.

Pertama-tama, kita mulai dari definisi dulu. Apa sih yang dimaksud dengan culture shock?

Ketika kita mengatakan bahwa kita 'shock' akan suatu hal, maksudnya kita tidak menyangka bahwa hal tersebut akan datang dan kita tidak siap dengan sesuatu yang baru itu. Begitu pula dengan 'shock' budaya. Bayangkan kita datang di suatu tempat yang sama sekali belum pernah kita kunjungi di benua lain. Mereka punya jenis makanan, cara bersosialisasi, dan cara berpakaian yang berbeda dengan kita. Lalu Anda harus tinggal di tempat itu selama beberapa waktu. Beberapa orang tentunya akan mengalami shock pada awalnya. Inilah yang dimaksud dengan culture shock.

Istilah Culture Shock pertama kali diperkenalkan oleh seorang Antropolog (Ahli Antropologi) bernama Kalervo Oberg pada akhir tahun 1950-an. Oberg sendiri mendefinisikannya sebagai "penyakit" yang diderita oleh individu yang tinggal di sebuah lingkungan budaya baru. menurut Oberg, culture Shock merupakan akibat dari hilangnya tanda dan simbol budaya yang dikenal, membuat individu mengalami kecemasan, frustrasi, dan perasaaan tidak berdaya (Chapdelaine & Alexitch, 2004). Searle & Ward (Chapdelaine & Alexitch, 2004) menyebutkan bahwa Culture shock merujuk pada banyaknya tuntutan penyesuaian yang dialami individu pada level kognitif, perilaku, emosional, sosial, dan fisiologis ketika mereka ditempatkan di budaya yang berbeda. 

Hubungan lintas budaya tersebut terbagi atas dua kategori besar, yaitu yang terjadi di antara penduduk negara atau masyarakat dengan beragam budaya, dan yang terjadi ketika seseorang dari suatu masyarakat pergi ke negara lain dengan tujuan tertentu, contohnya untuk bekerja, bermain, belajar, mengeksploitasi, atau memberikan bantuan (Bochner dalam Chapdelaine & Alexitch, 2004).

Siapa saja yang mengalami culture shock?

Ward, Bochner, dan Furnham (2005) mengemukakan kelompok-kelompok yang terlibat dalam hubungan lintas budaya, di antaranya:

1. Wisatawan. World Tourism Organization (WTO) mendefinisikan turis sebagai pengunjung yang lama tinggalnya lebih dari 24 jam di sebuah lokasi yang jauh dari rumah dan yang tujuan utamanya untuk bepergian bukanlah tujuan finansial.Turis internasional bersifat jangka pendek, datang untuk berlibur, dan merupakan kelompok pendatang lintas budaya terbesar.Motif para turis untuk datang mencakup pemandangan, alam, olahraga dan seks. Meskipun demikian hanya sedikit dari mereka yang ingin mempelajari budaya. Karena interaksi antar budaya dalam budaya yang berbeda seringkali sulit dilakukan dan karena pembelajaran budaya bukanlah selalu merupakan minat utama, banyak turis memilih bepergian ke tempat di mana jumlah kontak dengan penduduk setempat terbatas. Mereka memilih untuk tinggal dengan rekan sebangsa di hotel-hotel dan tempat pesiar dengan staf yang bisa berbicara dalam bahasa mereka dan mengantisipasi kebutuhan mereka dengan akurat. Penelitian menunjukkan bahwa turis eringkali memiliki harapan yang tidak realistis dan banyak yang bereaksi buruk ketika dihadapkan dengan pengalaman 'culture shock' pada masa-masa awal liburan.

2. Sojourner atau pendatang sementara. Sojourner tinggal sementara dan oleh karena itu merupakan penduduk sementara. Seorang sojourner pergi ke luar negeri secara sukarela selama periode waktu tertentu yang biasanya berkaitang perjanjian atau kontrak tertentu. Dengan demikian seorang sukarelawan munkgin melakukan tugas ke luar negeri selama satu atau dua tahun, seorang pebisnis mungkin menerima untuk ditempatkan selama 3 atau 4 tahun, seorang misioner mungkin lebih lama, sementara anggota militer seringkali ditempatkan lebih singkat. Seorang mahasiswa internasional biasanya tetap tinggal selama durasi kesarjanaan mereka.

3. Imigran. Migran mencakup mereka yang secara sukarela berpindah tempat untuk waktu yang lama. Mereka umumnya 'ditarik' ke sebuah negara baru oleh kekuatan sosial, ekonomi, dan politik. Mayoritas imigran sangat termotivasi oleh faktor ekonomi dan biasanya berpindah dari negara yang lebih miskin ke negara yang lebih kaya. Meskipun demikian, sebagian kecil imigran memilih pindah karena alasan politis, religius, atau budaya. Para imigran seperti halnya sojourn merupakan kelompok yang sangat beragam. Terdapat variasi yang luas dalam hal jarak budaya antara masyarakat asal dan masyarakat tempat tinggal imigran.

4. Pengungsi. Pengungsi sebagai sebuah kelompok juga memainkan peranan penting dalam pertumbuhan migrasi internasional secara global. Berbeda dengan pendatang lintas budaya yang lain, pengungsi umumnya telah mengalami trauma sebelum migrasi, seperti perang sipil, genosida*, kelaparan, pemenjaraan, dan penyiksaan. Pemindahan mereka tidak secara sukarela dan mereka tidak rela dipindahkan dari negara asal mereka dan 'didorong' ke lingkungan yang asing. Mereka umumnya kurang memiliki aset finansal, juga memiliki sumber daya pendidikan dan bahasa yang terbatas dalam membantu mereka beradaptasi terhadap lingkungan baru dan berbeda budaya. Hal ini khususnya tampak pada kasus-kasus di mana pengungsi berasal dari daerah pedesaan Asia dan Afrika yang direlokasi ke pusat-pusat kota di negara-negara industri barat.

Lalu, apa yang kemudian terjadi setelah culture shock?

Ward, Bochner, dan Furnham (2005) memaparkan bahwa ketika kelompok-kelompok yang berbeda budaya saling berhubungan, maka akan ada pengaruhnya terhadap struktur sosial, perjanjian institusional, proses politik, dan sistem nilai. Individu-individu yang terlibat dalam pertemuan budaya tersebut juga terpengaruh. Pada level kelompok, terdapat empat hasil pertemuan antar budaya, yaitu genosida, asimilasi, segregasi, dan integrasi.

Genosida
Terdapat banyak contoh di masa kuno maupun dalam sejarah ketika suatu kelompok biasanya mayoritas atau yang memiliki sumber daya teknologi superior, telah membunuh atau berusaha membunuh semua anggota kelompok lain yang melakukan kontak dengan mereka. Contoh genosida bisa kita lihat pada gerakan Nazi. Pergerakan pengungsi juga seringkali merupakan hasil dari usaha genosida, dan efek dari trauma sebelum migrasi bersifat kuat dan berlangsung lama.

Asimilasi
Asimilasi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses 'menelan' sebuah budaya oleh budaya lain. Hal tersebut seringkali adalah pendekatan yang digunakan oleh kekuatan kolonial di mana mereka memaksa nilai budaya dan etika mereka pada negara-negara yang telah mereka taklukkan. Secara teknis, asimilasi merujuk pada proses di mana sebuah kelompok atau sebuah masyarakat secara bertahap mengadopsi, atau dipaksa mengadopsi kebiasaan-kebiasaan, nilai, gaya hidup, dan bahasa dari budaya yang lebih dominan.

Segregasi
Segregasi merujuk pada kebijakan perkembangan terpisah. Dorongan untuk melakukan segregasi dapat datang entah dari mayoritas dominan yang ingin mengeluarkan kelompok minoritas tertentu dari posisi-posisi, institusi, dan daerah kekuasaan penting, atau dari kelompok minoritas sendiri yang secara aktif menuntut negara bagian terpisah, daerah budaya, sekolah khusus, kepemilikan tanah berdasarkan latar belakang etnis, sanksi terhadap pernikahan antar budaya, dan lain-lain.

Integrasi
Hubungan lintas budaya hanya dapat diatasi ketika kita secara tegas mengakui bahwa kelompok-kelompok manusia berbeda dalam identitas budaya masing-masing, bahwa mereka memiliki hak untuk mempertahankan hal-hal istimewa jika mereka menginginkannya, dan bahwa prinsip ini berlaku untuk perbedaan baik dalam maupun antar masyarakat. Integrasi merujuk pada akomodasi yang terjadi ketika kelompok yang berbeda mempertahankan identitas budaya inti sementara pada waktu bersamaan juga menyatu dengan kelompok yang dominan, sama-sama saling menghormati.

Pada level individu, terdapat empat gaya respon terhadap hubungan antar budaya. (1) Seringkali individu menolak budaya asal dan mengadopsi budaya baru, khususnya di mana budaya kedua memiliki status lebih tinggi. Sebuah efek yang kadang-kadang dirujuk sebagai gaya 'mengoper'. (2) Walaupun jarang terjadi, individu akan menolak pengaruh budaya lain seperti alien, mundur kembali ke budaya asal dan menjadi nasionalis militan dan memiliki patriotisme berlebihan. (3) Respon ketiga terjadi cukup umum, yaitu individu terombang-ambing antara dua budaya, tidak merasa akrab dengan kedua budaya. sebuah efek yang kita sebut 'sindrom marginal'. (4) Beberapa orang tampaknya mampu menggabungkan identitas budaya mereka yang beragam, setara dengan integrasi pada tingkatan individu, dan memperoleh kepribadian bikultural atau multikultural yang sejati. Individu seperti itu relatif jarang, dan dirujuk oleh Bochner sebagai 'orang yang memediasi'.

*) Catatan: Genosida merupakan pemusnahan secara teratur terhadap suatu golongan bangsa.

Referensi:

Chapdelaine, R.F., & Alexitch, L.R. (2004). Social skills difficulty: model of culture shock for international graduate students. Journal of College Student Development, 45(2), 167-184. Melalui Proquest Education Journals database.

Ward, C., Bochner, S., & Furnham, A. (2005). The psychology of culture shock. Melalui Taylor & Francis e-Library.
Sumber : http://jurnaljane.blogspot.com/2011/12/culture-shock-shock-karena-bertemu.html

Sabtu, 28 April 2018

Nilai Nilai Budaya Pada Bank DKI Syariah

Budaya perusahaan merupakan nilai dan falsafah yang telah disepakati dan diyakini oleh seluruh insan Bank DKI  sebagai landasan dan acuan bagi Bank DKI untuk mencapai tujuan. Bank DKI mendefinisikan budaya perusahaan dalam tujuh nilai yang meresap ke dalam segenap karyawan Bank DKI.
1. Komitmen
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang disepakati dan bertanggung jawab dengan sepenuh hati. 
Panduan Perilaku:

  • Memegang teguh dan berupaya keras untuk mencapai target
  •  
  • Melaksanakan pekerjaan dengan penuh tanggung-jawab
  •  
  • Dapat dipercaya dalam mengemban setiap pekerjaan dengan benar
  • Menjalankan tugas mengikuti aturan yang berlaku
  •  
Menindaklanjuti setiap masalah yang menjadi tanggung-jawab saya dan memastikan penyelesaiannya hingga tuntas

2. Teamwork
Kerjasama yang dilandasi semangat saling menghargai dan menghormati untuk mencapai hasil yang terbaik
   Panduan Perilaku:

  • Bersedia mendengar dan menghargai pendapat orang lain
  •  
  • Tidak memaksakan kehendak atau pendapat pribadi
  •  
  • Aktif memberi saran, pendapat untuk keberhasilan tim
  •  
  • Berpikir positif
  •  
  • Bersedia bekerja dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab dan dedikasi

3. Profesional
Menjalankan tugas sesuai dengan keahlian, keterampilan dan pengetahuan di bidangnya untuk mencapai kinerja terbaik dengan tetap menjunjung tinggi kode etik bankir.
   Panduan Perilaku :

  • Bekerja efektif dan efisien
  •  
  • Inovatif dan kreatif
  •  
  • Selalu belajar untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan dan keahliannya
  • Positif thinking
  •  
  • Berwawasan luas dan pandangan jauh ke depan
  •  
  • Bekerja berdasarkan prinsip kehati-hatian (prudent)

4. Pelayanan
Memberikan layanan terbaik kepada seluruh nasabah dengan sikap ramah, sopan, tulus dan rendah hati sehingga dapat memberikan kepuasan.
    Panduan Perilaku :

  • Senyum Salam Sapa
  •  
  • Mendengarkan dengan sepenuh hati untuk memahami kebutuhan nasabah
  • Memberikan layanan dengan sigap, cepat dan akurat
  •  
Siap menerima kritik dan saran untuk perbaikan layanan

5. Disiplin
Melaksanakan tugas secara tepat waktu, tepat guna, dan tepat manfaat.
   Panduan Perilaku :

  • Tepat waktu
  •  
  • Bertindak sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang berlaku dengan penuh tanggung jawab
  • Melaksanakan rencana yang telah ditetapkan
  •  
  • Menggunakan sarana dan prasarana kantor sebagaimana mestinya
6. Kerja Keras
Melaksanakan tugas dengan segala upaya untuk mencapai hasil yang terbaik.
   Panduan Perilaku :

  • Pantang menyerah untuk mencari solusi yang lebih baik
  •  
  • Menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas yang terbaik
  •  
  • Selalu bersemangat untuk memberikan hasil yang lebih baik
  •  
  • Tidak cepat puas atas hasil yang dicapai
  •  
Rela mengorbankan kepentingan pribadi demi tercapainya kepentingan perusahaan

7. Intergritas
Membangun kepercayaan dengan kejujuran, tanggung jawab, moral, serta satu kata dengan perbuatan
   Panduan Perilaku :

  • Berani menyatakan fakta apa adanya secara transparan dan jujur dengan tetap menjaga rahasia bank dan perusahaan
  • Menjunjung tinggi kebenaran sesuai dengan kode etik bankir
  •  
  • Melaksanakan tugas dengan ikhlas
  •  
  • Bersikap terbuka dalam mengungkap gagasan dan pendapat
  •  Mencintai pekerjaan dan menjaga citra bank

    Sumber : 
https://bankdkisyariah.co.id/index.php/bank-dki-syariah/visi-misi-2

Senin, 26 Maret 2018

Ilmu Budaya Dasar

Pengertian Ilmu Budaya Dasar
Ilmu budaya dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar dasar dan pengertian tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan. Istilah IBD dikembangkan di Indonesia sebagai pengganti istilah Basic Humanities yang berasal dari istilah bahasa Inggris The Humanities. Adapun istilah Humanities itu sendiri berasal dari bahasa Latin Humanus yang bisa diartikan manusiawi, berbudaya dan halus (refined). Dengan mempelajari The Humanities diandaikan seseorang akan bisa mcnjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.
Secara umum pengertian kebudayaan adalah merupakan jalan atau arah didalam bertindak dan berfikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani.
Pokok-pokok yang terkandung dari beberapa devinisi kebudayaan:
  1. Kebudayaan yang terdapat antara umat manusia sangat beragam
  2. Kebudayaan didapat dan diteruskan melalui pelajaran
  3. Kebudayaan terjabarkan dari komponen-komponen biologi, psikologi dan sosiologi
  4. Kebudayaan berstruktur dan terbagi dalam aspek-aspek kesenian, bahasa, adat istiadat, budayadaerah dan budaya nasional
Latar belakang ilmu budaya dasar dalam konteks budaya, negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut:
  1. Kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, dan segala keanekaragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yang biasanya tidak lepas dari ikatan-ikatan (primodial) kesukuan dan kedaerahan.
  2. Proses pembangunan dampak positif dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga dengan sendirinya mental manusiapun terkena pengaruhnya. Akibat lebih jauh dari pembenturan nilai budaya ini akan timbul konflik dalam kehidupan.
  3. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan manusia, menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakannya. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi, yang disamping memiliki segi-segi positifnya, juga memiliki segi negatif akibat dampak negatif teknologi, manusia kini menjadi resah dan gelisah.
Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Penyajian mata kuliah ilmu budaya dasar tidak lain merupakan usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan demikian mata kuliah ini tidak dimaksudkan untuk mendidik ahli-ahli dalam salah satu bidang keahlian yang termasuk didalam pengetahuan budaya (the humanities) akan tetapi IBD sebagai salah satu usaha untuk mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nlai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya, maupun yang menyangkut dirinya sendiri.
Berpijak dari hal diatas, tujuan utama mata kuliah ilmu budaya dasar adalah untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan pemikiran, khususnya berkenaan dengan kebudayaan, agar daya tangkap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya mahasiswa dapat menjadi lebih halus. Untuk bisa menjangkau tujuan tersebut IBD diharapkan dapat :
  1. Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
  2. Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
  3. Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain.    Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan akan lebih lancer dalam berkomunikasi.
    Dengan ringkas dapat disebutkan bahwa tujuan IBD secara umum adalah :
Pembentukan dan pengembangan kepribadian serta perluasan wawasan perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala yang berkenaan dengan kebudayaan dan kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkenaan dengan lingkungan budaya dapat diperluas.
Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar
Bertitik tolak dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan, dua masalah pokok bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah IBD (Ilmu Budaya Dasar), kedua masalah pokok itu adalah :
  1. Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusian dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), Baik dari segi masing-masing keahlian (Disiplin), didalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (Antar Bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
  2. Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing zaman dan tempat.
Kedua Pokok masalah yang bisa dikaji dalam mata kuliah IBD (Ilmu Budaya Dasar), Nampak jelas bahwa manusia menepati posisi sentral dalam pengkajian.
Manusia tidak hanya sebagai objek pengkajian, bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan bagaimana pula hubungan sang pencipta menjadi tema sentral dalam IBD, pokok-pokok bahasa yang dikembangkan adalah :
  1. Manusia Dan Harapan
  • Kepercayaan
  • Harapan
  1. Manusia Dan Kegelisahan
  • Keterasingan
  • Kesepian
  • Ketidakpastian
  1. Manusia Dan Tanggung Jawab Serta Pengabdian
  • Kesadaran
  • Pengorbanan
  1. Manusia Dan Pandangan Hidup
  • Cita-Cita
  • Kebijakan
  1. Manusia Dan Cinta Kasih
  • Kasih Sayang
  • Kemesraan
  • Pemujaan
  1. Manusia Dan Keindahan
  • Renungan
  • Kehalusan
  1. Manusia Dan Penderitaan
  • Rasa Sakit
  • Siksaan
  • Kesengsaraan
  1. Manusia Dan Keadilan
  • Kejujuran
  • Pemulihan Nama Baik
  • Pembalasan
KESIMPULAN
a) Ilmu Budaya Dasar” adalah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari dan telah dikembangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang tergolong dalam Pengetahuan Budaya.
b) Kebudayaan adalah hasil buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Dan budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa.
c) Latar belakang ilmu budaya dasar bermula dari kritik yang diberikan oleh sejumlah cendikiawan mengenai system pendidikan kita yang dinilai sebagai warisan system pendidikan pemerintahan Belanda pada masa penjajahan dengan tujuan menghasilkan tenaga terampil dalam bidang administrasi, perdagangan, teknik,dan keahlian lain demi kelancaran usaha mereka dalam mengeksploitasi kekayaan Negara kita. Padahal pendidikan itu seharusnya lebih ditujukan untuk menciptakan kaum cendikiawan daripada mencetak tenaga yang terampil. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat berperan sebagai sumber utama bagi pembangunan Negara secara menyeluruh. Dari mereka diharapkan adanya sumbangan ide bagi pemecahan masalah social masyarakat yang sangat kompleks dan berkaitan satu dan lain, dan juga dalam masalah budaya.
Ruang lingkup Ilmu Budaya Dasar terdiri dari:
  1. Manusia dan cinta kasih
  2. Manusia dan keindahan
  3. Manusia dan penderitaan
  4. Manusia dan keadilan
  5. Manusia dan tanggung jawab serta pengabdian
  6. Manusia dan kegelisahan
  7. Manusia dan harapan.
d) Hubungan IBD dengan ilmu eksak. Sesuai dengan pengertian dan sasaran ilmu budaya, maka tidak mengherankan jika pengetahuan budaya dasar itu berkaitan sekali dengan ilmu-ilmu teknik, justru ilmu teknologi itu adalah hasil dari budaya manusia. Karena itu tidak mengherankan, jika karya budaya itu menuntut kekuatan, keindahan, kepraktisan, dan sebagainya. Jadi IBD merupakan ilmu yang bertugas mendasari mental pribadi mahasiswa yang untuk dapat menerima, meresapi dan menghayati ilmu-ilmu budaya di samping ilmu-ilmu lain yang menjadi ilmu disiplinnya masing-masing.

Referensi : https://rendyaprian21.wordpress.com/2015/04/14/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

Universitas Gunadarma

Universitas Gunadarma

Comma Design

Comma Design
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Hello! Welcome to my Blog :). All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top