Rabu, 04 April 2018

DATA MINING PENERAPAN DATA MINING UNTUK MEMPREDIKSI KRITERIA NASABAH KREDIT


PENERAPAN DATA MINING UNTUK MEMPREDIKSI
KRITERIA NASABAH KREDIT


Tugas Bagian Dana Bank XY selama ini adalah mencari nasabah dan/atau menghimpun dana masyarakat berupa kredit, dana tabungan, deposito, simpanan, dan pinjaman lainnya. Metode yang digunakan untuk menentukan target pasar selama ini adalah mengklasifikasikan semua nasabah yang telah melunasi angsuran kreditnya ke dalam target pemasaran, padahal belum tentu semua nasabah tersebut akan tertarik melakukan peminjaman kredit kembali.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan loyalitas nasabah bank tersebut, maka bagian ini dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menentukan strategi pemasaran, baik produk maupun layanan jasa perbankan yang akan ditawarkan kepada nasabah khususnya dalam masalah perkreditan. Hal ini dapat direalisasikan jika diperoleh informasi yang cukup untuk membantu proses pengambilan keputusan di bidang marketing, salah satunya adalah dengan melakukan peramalan

atau memprediksi kriteria nasabah untuk kepentingan target pemasaran.

Data mining dapat digunakan oleh marketer untuk menganalisis pasar sehingga seorang marketer dapat memahami pasar yang sudah ada ataupun menemukan peluang-peluang yang baru untuk meningkatkan keuntungan termasuk memprediksi kriteria target pasar. Oleh karena itu, penelitian ini fokus pada pemanfaatan data mining untuk memprediksi kriteria nasabah kredit, sehingga dapat diketahui apakah nasabah yang bersangkutan merupakan nasabah yang berpotensi menjadi nasabah kredit yang produktif atau tidak.

ANALISIS SISTEM

Prosedur pencarian nasabah yang dilakukan oleh Bagian Dana Bank XY Kabupaten Bandung, dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, data nasabah kredit Bank XY Kabupaten Bandung tersimpan dalam database microsoft excel dengan nama MASTER_KREDIT hasil import dari Sistem Informasi Debitur (SID), dimana tabel tersebut terdiri dari 27 fields (Tabel 1).

 


      Gambar 1.       Activity Diagram Prosedur Pencarian Nasabah

Pada teknik classification, keluaran dari setiap data yang dijadikan parameter target atau class harus berupa bilangan bulat atau diskrit. Berdasarkan Tabel 1, field yang dijadikan parameter target (class), yaitu field „CEK‟ yang berisi nilai parameter AKTIF dan TIDAK-AKTIF. Nilai parameter AKTIF berarti nasabah masih mempunyai angsuran kredit kepada bank, sedangkan TIDAK-AKTIF berarti nasabah sudah tidak mempunyai angsuran kredit kepada bank lagi (sudah melunasi pembayaran kreditnya).

Berdasarkan records dari data pada field „CEK‟ tersebut, maka teknik classification bisa diterapkan untuk melakukan data mining pada data tersebut. Adapun kolom yang bisa diambil sebagai parameter-parameter pembentuk pohon keputusannya adalah :

a.         JENIS_KELAMIN
b.         UMUR
c.         DESA
d.         KECAMATAN
e.         STATUS_MARITAL
f.          NILAI_PINJAMAN
g.         JML_ANGSURAN
h.         KODE_INTEGRASI.

Contoh pohon keputusan yang terbentuk dengan menggunakan algoritma C4.5 dapat dilihat pada gambar 2. Setelah pohon keputusan terbentuk secara utuh, maka dibuat aturan prediksi berdasarkan hasil pembentukan pohon keputusan tersebut. Adapun rules (aturan) prediksi yang dapat diperoleh dari pembentukan pohon keputusan pada contoh tersebut adalah sebagai berikut :

1.Jika Pekerjaannya di bidang Perdagangan Dan DESA CITAPEN Diprediksikan Berpotensi

2.Jika Pekerjaannya di bidang Perdagangan Dan DESA BATUJAJAR BARAT Dan Jenis Kelaminnya Laki-Laki Diprediksikan Berpotensi

3.Jika Pekerjaannya di bidang Perdagangan Dan DESA CIPATIK Diprediksikan Tidak Berpotensi

4.Jika Pekerjaannya di bidang Perdagangan Dan DESA BATUJAJAR BARAT Dan Jenis Kelaminnya Perempuan Diprediksikan Tidak Berpotensi

5.Jika Pekerjaannya di bidang Pertanian Diprediksikan Tidak Berpotensi


 


                   Gambar 2. Pohon Keputusan Node 1.1.2

Gambar 3 menunjukkan use case aplikasi data mining yang dibangun sehingga tampak jelas interaksi antara pengguna dengan aplikasi data mining. Aktor yang terkait dengan aplikasi data mining ini adalah Bagian Dana. Aktor ini mempunyai wewenang sepenuhnya untuk menangani aplikasi seperti melakukan login, import data, mengatur parameter, memproses pohon keputusan, melakukan prediksi, menguji kriteria nasabah, dan membuat laporan. Interaksi antara pengguna dengan aplikasi data mining yang terjadi pada setiap aktivitas di atas, akan diperjelas dengan menggunakan activity diagram. Sebagai contoh dapat dilihat Gambar 4 yang menunjukkan activity diagram “Menginpor Data”.





Gambar 3. Use Case Diagram Aplikasi Data Mining








 

Gambar 4. Activity Diagram Mengimpor Data

Gambar 4. Activity Diagram Mengimpor Data Berdasarkan  skenario  use  case,  akan  dibentuk diagram  sequence  untuk  kasus  normal  dari  setiap skenario use case. Tabel 2 menunjukkan skenario use  case  melakukan  import  data  dan  Gambar  5 menunjukkan   sequence   diagramnya.   Sedangkan
 
 









Gambar 5. Sequace Diagram

KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah melakukan analisis, perancangan, implementasi beserta pengujian yang telah
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa aplikasi yang dibangun dapat membantu Bagian Dana dalam menganalisis data nasabah untuk menentukan target pemasaran kredit sehingga diharapkan biaya operasional marketing perbankan dapat ditekan seminimal mungkin. Jadi perancangan aplikasi data mining ini telah sesuai dengan prosedur dan tujuan
yang    diharapkan. Adapun saran-saran untuk pengembangan aplikasi ini lebih lanjut adalah 1.Pembersihan data diharapkan bisa terintegrasi dalam aplikasi.

2.Adanya grafik yang mempresentasikan hasil analisis.

3.Format masukan data tidak hanya berupa Microsoft Excel saja tetapi bisa Microsoft Access, SQL server, dan lain sebagainya.

Daftar Pustaka :  https://ojs.unikom.ac.id/index.php/komputa/article/view/48

Senin, 02 April 2018

Manajemen Layanan Sistem Informasi

Manajemen Layanan Sistem Informasi

PENGERTIAN MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI
Manajemen Layanan Sistem Informasi adalah suatu metode pengelolaan sistem informasi(SI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan SI terhadap bisnis perusahaan.
Manajemen Layanan Sistem Informasi berfokus pada proses dan karenanya terkait dan memiliki minat yang sama dengan kerangka kerja dan metodologi gerakan perbaikan proses (seperti Six Sigma, ERP, dsb) Disiplin ini tidak memedulikan detail penggunaan produk suatu pemasok tertentu atau detail teknis suatu sistem yang dikelola, melainkan berfokus pada upaya penyediaan kerangka kerja untuk menstrukturkan aktivitas yang terkait dengan sistem informasi dan interaksi antara personel teknis TI dengan pengguna teknologi informasi.
Manajemen Layanan Sistem Informasi umumnya menangani masalah operasional manajemen sistem informasi dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan software komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.


FRAMEWORK MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI
Contoh kerangka kerja dari Manajemen Layanan Sistem Informasi adalah sistem pengelolaan data karyawan dan penggajian pada sebuah perusahaan manufaktur, atau biasa disebut Human Resources Information System (HRIS). Software HRIS tersebut biasanya melakukan proses penyimpanan database karyawan dalam sebuah perusahaan. Dari mulai karyawan tersebut di-hire sebagai karyawan sampai dengan karyawan tersebut resign. Manajemen Layanan Sistem Informasi pada HRIS terletak pada proses penginputan data oleh Admin dan juga transaksi-transaksi yang dilakukan secara online oleh karyawan itu sendiri.
Proses Penginputan data oleh Admin biasanya berupa data personal karyawan, gaji, serta data lainnya sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan. Transaksi-transaksi yang dilakukan oleh karyawan biasanya berupa permohonan cuti, overtime, atau yang berhubungan dengan Finance, seperti claim medical reimbursement, expenses, dan lain sebagainya.
Proses otomatisasi tersebut dapat mengurangi kemungkinan human error juga mempercepat proses dengan mengurangi risiko tercecernya dokumen pendukung.


Definisi & Framework Manajemen Layanan Sistem Informasi

Manajemen Layanan Sistem Informasi atau IT Service Management (ITSM) adalah istilah umum untuk menggambarkan pendekatan untuk merancang, menghasilkan, mengelola dan meningkatkan penggunaan teknologi informasi yang digunakan dalam perusahaan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa semua proses, sumber daya manusia dan teknologi berada pada tempat/berjalan dengan benar sehingga organisasi dapat mencapai tujuan bisnisnya.
ITSM adalah proses layanan bisnis dengan fokus utama pada pelayanan terbaik kepada konsumen. ITSM dibuat untuk mengukur sebuah proses dengan memberikan sebuah solusi kepada konsumen daripada hal teknis seperti development. ITSM mengukur efisiensi operasional dalam memberikan solusi dan bagaimana mengelola sistem ini agar memenuhi harapan yang diinginkan.
Apa yang membedakan pendekatan IT management seperti Network Management dan IT Systems Management, ITSM memiliki karakter sebagai berikut :
  • Mengadopsi pendekatan proses pada manajemen.
  • Lebih fokus terhadap kebutuhan konsumen dan layanan IT untuk konsumen.
  • Menekankan perbaikan yang berkelanjutan (Continual Improvement)
Salah satu framework ITSM adalah standar ISO/IEC 20000. Framework ITSM sendiri dipengaruhi dan diadopsi dari standar lain seperti ISO 9000 (Sistem Manajemen Mutu) dan ISO/IEC 27000 (Sistem Manajemen Keamanan Informasi).
Sehingga secara garis besar adalah ITSM merupakan sebuah proses pengukuran sebuah layanan yang terfokus pada kepuasan pelanggan dalam menggunakan layanan tersebut.
Contoh framework pada ITSM adalah :
ITIL (Information Technology Infrastructure Library)
Merupakan sebuah konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi. ITIL menekankan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi dibagi menjadi 5 bagian
o Service Strategy.
Memberikan panduan kepada pengimpelemntasi bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan IT), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy :
1. Service Portofolio Management.
2. Financial Management.
3. Demand Management.
o Service Design.
Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
1. Service Catalog Management.
2. Service Level Management.
3. Supplier Management.
4. Capacity Management.
5. Availability Management.
6. IT Service Continuity Management.
7. Information Security Management
o Service Transition.
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1. Transition Planning and Support.
2. Change Management.
3. Service Asset & Configuration Management.
4. Release & Deployment Management.
5. Service Validation.
6. Evaluation.
7. Knowledge Management.
o Service Operation.
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1. Event Management.
2. Incident Management.
3. Problem Management.
4. Request Fulfillment.
5. Access Management.
o Continual Service Improvement.
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA).


Sumber :
https://ariefkendyblog.wordpress.com/2017/04/28/definisi-framework-manajemen-layanan-sistem-informasi/
https://id.wikipedia.org/wiki/ITSM
https://nuniknoviani.wordpress.com/2016/03/22/manajemen-layanan-sistem-informasi/

Universitas Gunadarma

Universitas Gunadarma

Comma Design

Comma Design
Diberdayakan oleh Blogger.

 

© 2013 Hello! Welcome to my Blog :). All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top